SAGA 2



"Disaat hujan, nona, dan kucing"
Bag 2

Darah didalam nadiku mengalir deras, waktu seolah bergerak melambat, nafasku menjadi cepat dan tidak teratur, jantungku berdetak begitu lambat bisa aku rasakan perlahan lahan seolah menghilang.

Aku menarik nafas dalam, merapikan rambutku, dan membenarkan dasiku. "Hai.. aku Ipan" dengan tersenyum sambil mengulurkan tangan. Nona itu membalas dengan senyuman, sepersekian detik sebelum tangannya menjabat tanganku bel masuk berbunyi. Dari kejauhan temanya datang, dan menjabat tanganya dan berlari ke kelas.

Bahkan ketika berlari nona itu terlihat begitu anggun, badanya seolah di desain untuk membelah angin begitu aerodinamis. Semua mata tertuju padanya, puzzle lainya sudah ku genggam. Sekarang aku sudah yakin, itu gadis dihujan senja sore kemarin. Tulang tulang ku bisa merasakan aku tidak salah ,walaupun semua ini seolah olah bagian cerita yang hanya terjadi dalam sebuah cerpen karangan seseorang.

Sepulang sekolah aku dan Sahala, mampir ke bengkel tempat aku menitipkan motorku yang sakit kemarin. Usainya aku dan Sahala berencana menuju basecamp, tempat kami biasa berbagi omong kosong dan melemparkan tawa ke udara untuk disantap bersama.

Siang itu sekitar pukul 3, kami memacu kuda besi kami kebatas paling maksimal seperti biasa. Walaupun jalanan agak padat, tapi kami sudah terbiasa. Semakin kami melaju langit langit seolah mengisyaratkan akan menangis dalam hitungan detik, akhirnya tetes tetes H20 itu jatuh ketanah. Aku dan Sahala sedikit menurunkan kecepatan, tiba tiba saja diekor mataku. Aku melihat nona itu berlarian di trotoar, tubuh aerodinamisnya  menghindari tetes hujan yang dijatuhkan tuhan kebumi.  lagi lagi nafasku seolah terasa begitu dalam.

Aku segera mengisyaratkan Sahala untuk memutar balik. "Aku memacu kereta ku pelan beriringan dengan nona yang berlari kecil "kamu kayak kodok, sering aku jumpai hujan hujan !" Aku berteriak agak keras memecah hujan. Diapun menghentikan langkahnya , dan dia berlari kecil lagi. Hujan semakin menderas, airnya menembus seragam putih dan celana abu abu.  Aku berteriak melihat dia yang terus berlari "Yaudah naiiiikkk !, Abis hujan aku tanya tanyaiiiiin !".

Pandanganku semakin mengecil hujan deras hanya menyisakan pandangan sejauh satu meter. Aku tidak bisa melihat dia, Sahala sudah memutar balik motor, aku juga. Lalu suara gadis itu memecah deru hujan "Tunggu !!". Tanpa dialog, secepat yang kami bisa, aku dan Sahala kembali memanaskan kuda besi yang kedinginan sepanas mungkin. Kami melesat kencang ke arah barat menjauhi langit langit yang menangis. Dibawah langit langit yang kelabu dan hujan yang deras aku bisa merasakan hangat dari tubuhnya di punggungku, genggamannya begitu erat, semakin aku melaju semakin erat. Dia tidak bersuara, jikapun ia pasti tak terdengar kami berlarian di 90an kilometer dihujan paling deras di bulan April.

Jika kalian sudah menunggu bagian dimana aku melepaskan jaketku untuk dia, itu tidak akan terjadi. Aku benci, karena hujan semakin mereda, perlahan dia melepas pelukanya dari kejauhan bianglala mengudara mengisyaratkan hujan sudah berlalu. Petrichor (aroma sesudah hujan)  mengisi paru paru dua manusia yang saling kedinginan. Aku bingung harus mulai bicara dengan cara bagaimana, akhirnya kami berhenti sebentar disebuah kedai kopi kecil.

Sahala datang menghampiriku, dia menarik lenganku dengan kasar dan membawaku menjauh dari nona itu. "Wah... Gila ko pan !" Dia menunjuk tepat diantara kedua bola mataku "kenapa anjing ?" Aku sedikit menjolak dada Sahala. Bibir kami masih bergetar kedinginan. Sahala menarik kepalaku mengantuk keras kepalanya dan berbisik "Dia itu incarannya si Doni", aku segera menjolak sahala. "Gua sahabat lu, tapi soal ini gua gak ikut campur pan !" Sambil mengangkat tangannya dan bergegas pergi. Aku menghampiri nona itu, terlihat Sahala memacu motornya menjauh.

"Dia kenapa?" Tanya nona itu, "eh?" Aku baru sadar sedari tadi aku bersama seorang gadis. "Ddd....dia... Dia...", "Dia kenapa?", "dia belum makan !, Iya si Sala belum makan, kalau belum makan dia biasa marah marah gitu". "Oh..., rumahku kebetulan gak jauh dari sini cuma beberapa blok kedepan" timpalnya, "Yaudah biar aku anterin", "ga... gausah gausah... nanti jadi lebih ngerepotin lagi" nona itu menolak. "Aku suka direpotin kok" sambil mengengkol  motorku, yang justru gak mau idup. Gadis itu tersenyum kecil dan meninggalkanku. Aku tertawa kecil dan meninggalkan motorku.

Suasana yang awalnya gelap sekarang pelan pelan menguning, tak terasa sekarang sudah mau pukul 6 sore. Berkas merah dilangit langit senja dan siluet oranye menggiring burung burung gereja pulang kesarangnya. Aku berjalanan disisi kiri trotoar, dan nona itu disisi kanan. Dia meloncat loncat mengikuti pola keramik di trotoar. Siapa yang tidak tertawa melihat ulahnya. "Oh iya Rain !, Rain udah dikasih makan?" "Huph" dia berbicara sambil meloncat loncat diantara keramik trotoar yang basah karena hujan. Aku suka tingkahnya.

"Oh kucing itu..... !", Aku tidak punya ruang untuk ituu....", Jadi aku titipkan kucing nakal itu dikandang Bulldog punya pamaaaaan!, Dirumahnya paman tadi pagi ada bangkai kucing!! Aku sedikit berteriak. Dia berhenti dan menyebrang jalan kesisi trotoarku. Matanya mulai berair, tiba tiba saja pipinya yang awalnya pucat kita meranum. Aku hanya bercanda, tapi di hati yang paling dalam seolah ada rasa bersalah dan begitu menusuk kehati, aku tak tega. Air mata dari gadis yang sudah setengah cerita dan aku masih tidak tau namanya jatuh perlahan membasahi pipinya. "Aku bercanda ! ", Kini air mata justru ikut membasahi bibir nya yang berwarna pink itu. Aku mengusap bibirnya yang basah, dia memukul dadaku agak keras ! "Uhuk !" Waaaah itu benar benar sakit.


Bag 3 menyusul~





















Comments

  1. Bahasanya vulgar , tapi masih batas ��

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts