SAGA 3

Kini air mata justru ikut membasahi bibir nya yang berwarna pink itu. Aku mengusap bibirnya yang basah, dia memukul dadaku agak keras ! "Uhuk !" Waaaah itu benar benar sakit. "Gak lucu tau !" Timpalnya dengan wajah marah, tetapi dia tetap cantik.

"Ketika Hujan, Nona dan Kucing" bagian 3

Sekarang kami berjalan di sisi trotoar yang sama, langit yang Oren kini mulai memerah. Lagi lagi aku benci, rumahnya dekat jadi kami hanya berjalan sekitar 15 menit. Kelebat merah di ujung ujung horizon kini tenggelam berganti gelapnya malam, "mampir dulu?" "Oh pasti" sudah kutunggu tunggu pertanyaan itu. Ternyata dia dari keluarga yang sangat sederhana, rumah kayu yang tidak begitu luas dengan dikelilingi aneka macam bunga disekelilingnya.

"Aku buat teh dulu, kamu tunggu disini jangan kemana mana", akupun menunggu diruang tamu  yang hangat itu berlampukan lampu bulat kuning yang redup redup. Dari dapur aku mendengar suara gaduh, beberapa menit kemudian keluar seseorang dengan setelan jas dari dapur menuju pintu keluar. Nona itu keluar dari dapurnya dengan kelopak mata yang sembap, disusul keluarnya seorang nenek dari kamar didekat ruang tamu. 

Aku duduk bersebrangan dengan gadis itu, nenek duduk diujung sebelah kanan ku. "Oh... , Van jadi kamu udah punya temen baru disini? Huhuk" tanya nenek. "Bukan temen nek !", "Yaudah temenan kalo gitu" nenek meraih tanganku menggulurkannya ke gadis itu,"Ipan" jawabku senyum senyum. "Vania" jawabnya sembari bangun mengambilkan kain hangat untuk neneknya, "neeek... Obatnya kok masih ada? Nenek gak minum tadi siang?" Tanyanya dengan nada nada lembut. "Nenek kamu kenapa?" Tanyaku, "sebulan lalu nenek di diagnosa dengan alzheimer, ingatanya perlahan lahan memudar obat ini bisa memperlambat efeknya" jawabnya. "Vaaaan kamu ada kawan baru?" Tukas nenek, membuatku terkejut. "Udah malem, pulang gih sana, ntar dicariin lagi !"imbuhnya ke aku. "Jadi kemarin itu nenek menang lomba balet, nenek masih bisa" sembari bangun dari kursi goyangnya nenek menimpali "Adu dududuh...." Timpal Vania lagi ke neneknya. "Uwaaahhh, nenek kamu jago balet?" Aku tiba tiba terkejut.

Dia memberi isyarat mata kefoto foto didinding kayu yang melapuk itu, dan akupun mulai mengerti dengan penyakitnya. Malam itu, kami berdua menghabiskan sisa malam mendengar kisah epik dari nenek.  Sampai akhirnya malampun semakin larut, pungguk sudah mulai bersajak kepada bulan. Nia mengantarku kedepan pagar, setelah menghantar nenek ke kamar. Aku diluar pagar, Nia didalam. "Nenek kamu keren","hhh" jawabnya,"kapan kapan aku mampir lagi", "buat apa?" Jawabnya sinis. Dari dalam rumah terdengar suara nenek berteriak "NIA...... !!!!", sontak kami terkejut aku segera memanjat pagar yang sudah digemboknya. Ketika selangkanganku tepat berada di tengah tengah kayu itu nenek melanjutkan teriaknya "kamu ada kawan baru yaaa????", Kami berdua terperangah diikuti saling pandang, dan akhirnya kami berdua tertawa lepass. "Besok pagi aku jemput !", Dia tidak membalas hanya menutup pintu rumah untuk dikunci. 

Sepanjang jalan aku tertawa sendiri, orang orang melihatku keheranan. Andai saja mereka tahu biang Lala macam apa yang aku jumpai hari ini, akhirnya aku sampai dititik aku meninggalkan motorku. Ku engkol sekali masih mogok, dua kali masih mogok, tiga kali aku sebut nama Vania 3 kali motornya menyala. Seperti hari hari lainya ibu sudah menunggu, bedanya kemarin didepan rumah hari ini di depan pagar dengan sejuta pertanyaan. "Biasa bu, si Jalu ngambek", "kan kemarin baru aja kamu bawa ke bengkel, mogok lagi?". 

Aku lelah sekali mungkin karena hari ini terlalu indah, di ¼ malam aku terbangun. Aku berkisah kepada pendengar yang paling setiaku di ¼ malam, aku minta sebuah kamera untuk kutangkap momen momen indah tetapi dia justru memberikan ku momen momen indah untuk diingat. Aku meminta kesempurnaan dia memberikan yang terbaik, kepadanya aku berserah. Mendekati subuh, ibu membangunkanku bergegas ke masjid bersama ayah. Aku sudah bangun duluan teringat ingat menjemput gadis cantik pagi ini, aku ke masjid duluan. Di jalan aku berteriak teriak sendiri kegirangan berharap penghuni milkyway hingga Saturnus mendengar kebahagiaanku seolah olah aku adalah orang yang paling bahagia.

Pagi itu aku menggunakan minyak wangi sedikit ekstra, ibuku sampai pangling. "Tumben rapi ntong?" Diikuti dengan tawa ibu dan bapak yang begitu lepas, "Tumben berarti..." Jawabku senyum senyum dengan alis naik naik. "Udah ganteng buk?" Ibu dan bapak semakin tertawa.

Jam 5.30 aku sudah siap pergi sekolah, aku memacu pelan motorku menuju rumahnya. burung burung gereja keluar dari sarangnya mencari cari pati kearah timur, langit langit yang agak gelap perlahan benderang tertimpal garis garis kuning. "Vania ada nek?" Aku bertanya ke nenek yang tengah menyiram bunga. "Vania cucu nenek?", "Iya nek !".Beberapa menit kemudian dari pintu kayu itu, keluar seorang gadis dengan paras cantik. "Mau kemana?" Tanya gadis itu, "sekolahlah !", "Hari inikan libur" Vania tertawa lepas nenek pun ikut tertawa. Sekarang aku paham kenapa ibu dan bapak ketawa tadi pagi.

"Yaudah aku bantu nenek aja" tukasku, "cie yang sekolah hari Minggu" ejeknya sambil masuk kedalam. Aku memindahkan beberapa pot kesudut sudut yang nenek inginkan, beberapa menit kemudian sebuah mobil mewah berlabuh didepan rumah. Vania keluar dengan senampan teh hangat untuk kami bertiga, seseorang berbaju rapi keluar dari mobil. "Ayo pulang !" Dia menarik paksa tangan Vania sehingga ketiga gelas teh dan teko antik itu pecah jatuh ketanah.


Comments

Popular Posts