SAGA



di Saat Hujan, kucing, dan Nona


Aku juga merasakanya, hawa dingin yang datang beriringan dengan rasa nyaman itu, aku sendiri sudah melewati 15 kali musim hujan dibulan april. Disetiap rintiknya ada memori yang terperangkap dalam waktu, jatuh ketanah yang lembab dan menjadi sebuah kisah.  Awan yang biru perlahan berubah kelabu. Burung burung merpati berteduh kehujanan di sela sela gedung merapatkan diri dan mereka berbagi kehangatan tubuh, aroma rumput yang basah dikala hujan mengisi paru paru yang sepi. Disaat saat saat ini, aku lebih memilih untuk berkisah karena Thesaurus tidak akan datang kepada hati yang sedang membiru.


Derasnya hujan menutup pandanganku kehujung jalan yang sunyi, padahal hari itu seharusnya sudah senja. Tapi senja sedang berlibur bersama keluarga, jadi hujan datang seperti guru honorer untuk mengganti senja sementara. Tapi aku lebih suka hujan sama halnya dengan guru honorer, dingin dingin menyegarkan. Sialnya pulang sekolah hari itu motorku mogok, aku menitipkanya kedokter motor terdekat. Adzan berkumandang memecah suara hujan yang deras, ibu ku sedang tidak ada untuk membentak aku yang malas seperti biasa, tapi aku justru bergegas kemasjid terdekat entah mengapa.


Kakiku yang menapaki jalan bolong karena uang APBN ditelan blackhole menghatarkanku kelorong jalan yang deras sehingga menutup pandanganku. Diujung jalan aku melihat seorang nona berseragam SMA tengah kehujanan, dia tampaknya sedang melihat sesuatu kedalam kubangan yang airnya perlahan bergerak keatas. aku memacu kakiku untuk melangkah semakin cepat.


Setibanya aku nona tersebut langsung mengisyaratkan dengan jari kalau ada seekor kucing yang terjebak.  Ditengah hujan deras itu aku berusaha untuk menjaga diriku tetap kering dari air got setidaknya, ku raih sebatang kayu panjang untuk meraih anak kucing nakal itu. Kami bertiga segera berteduh disebuah masjid yang hangatnya dari kejauhan sudah menyambut kami di maghrib deras itu. Aku hanya melihat nona itu samar samar, hujan seolah melarangku untuk melihat wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang berlekuk.


Jamaah hampir selesai, aku bergegas wudhu dan beribadah. Usainya aku tak berdoa panjang, hatiku belum terkaram kenona manapun kala itu jadi aku hanya meminta syurga kepada orang tua dan sebuah kamera baru. Selepas berdoa aku pergi kehalaman masjid, hujan telah tiada begitu pula nona itu,hanya seekor kucing berwarna putih bersih yang tubuhnya kering sama sekali tidak basah. Didalam sepatuku ternyata aku menemukan sepucuk surat pesanya “terimakasih, aku beri nama dia “Rain” tolong jaga untukku” dan sebuah tulisan yang telah basah hanya menyisakan dua huruf pertama “Va”.


Dalam hati aku menggumam, sudah basah sekarang aku harus menjadi seorang ayah. Apakah ini pertanda aku akan mendapat nilai merah?, semua sudah terkemas dan aku bergegas pulang. Diperjalanan aku bisa merasakan udara segar dari aspal yang dulunya kehausan, tetes tetes hujan yang terjebak diranting jatuh bergantian. Ibuku memunggu didepan rumah dengan seribu pertanyaan. Malam itu ditempat yang paling nyaman didunia dengan kekuatan gravitasi paling maksimal di semesta, pikiranku mengumpulkan puzzle puzzle wajah seorang wanita yang aku sendiri tak tahu itu siapa. Orkestra kecil kecilan dari para serangga dirawa rawa samping rumah menghantarku ketidur yang lelap.


Dipagi hari seperti biasa, aku terbangun 17 menit sebelum gerbang sekolah ditutup. Aku sampai disekolah masih tersisa 4 menit alhamdulliah ada kemajuan. Sialnya aku lupa bawa tas, aku lupa bawa baju ganti selain baju olahraga yang melekat dibadanku untuk jam pertama. Tidak perlu aku lanjutkan siang itu aku dihukum ditengah lapangan, perutku kelaparan. Burung burung gereja menjatuhkan doorprize kewajahku dari langit langit, andai saja kau tahu burung gereja yang mana yang melakukan itu. Guru bk kesayangankupun sudah mulai bosan melihat wajahku ditengah lapangan. 2 jam berlalu kini cacing cacing diperutku yang berulah, mereka sudah melakukan demo di perempatan usus besar.


Beberapa menit kemudian bel keluar main main berbunyi, seorang yang wajahya tak asing datang menghampiriku dengan sekotak makan siang berwarna pink lengkap dengan botol minumnya. Ibu bk berteriak dari ruangnya “Paaaaaan !!!!!, jangaaaaaannnnn minta bekaal oraaaangggg !!!!”, “saaaayaaaaa gaaamintaaaa buuuk neneeeeng ! bekaaalnya jaalaaaan sendiri”, sambil menengak air aku menoleh kearah gadis itu. Sontak !, aku terkejut terjadi dilatasi di kerongkonganku menyebabkan H20 terpaksa keluar dari hidung, maksudnya “aku tersedak”. Mengapa tidak  ! seorang gadis dengan kulit putih licin berwajah bak manga ranum di musim panen,dan dengan tubuh itu. Darah didalam nadiku mengalir deras, waktu seolah bergerak melambat, nafasku menjadi cepat dan tidak teratur, jantungku berdetak beg  


 Setelah Thesaurus 4~

Comments

Post a Comment

Popular Posts