SAGA 4
Ketiga teh dan teko antik itu jatuh ketanah.
Bukan berhenti, motorpun kami campakan segera berlari kelantai 5. Diatas, kami sudah disambut dengan Doni dan puluhan anak buahnya dengan tangan kosong. "Lu yang namanya Ip..","BACOT KAU DONI!!!" Pitbull memotong, kami melempar senjata keluar jendela dan berlari liar kearah kerumunan. Tak perlu peramal, sudah dipastikan darah darah segar keluar dari pelipis mata kami, bahkan suara bisingpun sudah tak terdengar. Pitbull dan Pandu meraung kesakitan, menyerang membabi buta. Lagi, darah merah segar mengalir dari pelipis mata icun. Teriakku... "DONIII!!!!", Aku berlari kencang dan melompat, sebuah bogem mentah mengarah ke rahang Doni. "Keprak!" (Suara rahang patah). Diikuti aku yang tak sadarkan diri.
Bangun bangun itu sudah senja, merah menyalak langit. Di lantai teratas gedung, Sahala melemparkan sekotak rokok kepalaku. Kami duduk bersampingan menatap senja, "Ah kimak!, gak jadi matinya kita" tukas Pitbull memecah tawa. Aku pandangi mereka mereka yang babak belur, ican dan pandu asyik membahas siapa yang paling banyak melempar bogem. Lalu sebuah panggilan dari telfon Sahala "iya halo?", Singkat cerita telfon itu diberikan kepadaku. "Paaaaan !!! Kamu gapapa?", Sial suara lembut itu. Aku menatap mata Sahala "dari mana nomornya anjing?", Sahala hanya berlagak linglung. "Aku gasuka kamu sok jagoaaan!" Suara lembut itu lagi dari telfon.
Ketika nona, hujan dan kucing bag 4
aku berlari dari halaman samping menuju kedepan, sial aku telat beberapa detik mobil sudah pergi. Hatiku seketika tak tenang, begitu pula sang langit. Awan perlahan meneteskan air kebumi sembari mengkelabu, aku mengambil kunci dan memanaskan si Jarwo.
Honda 2 tak itu berlarian kencang membelah dinginya hujan yang merasuk kesela sela tulang. Mataku menatap tajam diantara kabut hujan, tak akan kubiarkan mobil itu lepas. Semakin deras hujan, semakin deras langit, semakin keras deru petir, semakin mendidih darah didalam nadi. lagi lagi nafasku tak teratur, jantungku berdetak kencang, aku berteeriaaak "VAAAAANIIIIAAAAAAAA !!!".
Bukan aku, bahkan awanpun menangis. Bukan aku bahkan langitpun mengkelabu. Bukan aku, Pipit pipitpun membisu. BMW putih itu hilang dalam kabut.
Tak lama berselang, aku menerima telfon dari nomor tak dikenal. "Halo ?", "UHUK.... PAAAAN TOLONG PAN!!!" (suara parau), "SAHALA?", "GUBRAK !"(SUARA BANTINGAN KERAS), "LA... Kenapa LAA???", "Ini Doniiiii !!!, Gedung kosong samping sekolah lantai 5 !", Telfon mati. "Aaaaaannnnjiiiingggg !". "Brummmmm"(si Jarwo meraung), kuputar arah ditengah hujan, melawan arus dari jalan lurus menuju basecamp.
Sesampainya di basecamp, kebetulan 3 sahabatku yang lain ada disana pandu, icun, Pitbull. Dengan nafas terengah-engah aku berteriak didepan pintu "SAHALAAAAAA DI SEKAP!!!". BBBBRUMMMMM (SUARA 4 KUDA BESI BERSERINGAI). Sebilah samurai panjang, dua balok, dan satu gir kami menuju keneraka. Kami tau mungkin saja kami mati, lebih baik ketimbang hidup melihat sahabat kita mati.
Bukan berhenti, motorpun kami campakan segera berlari kelantai 5. Diatas, kami sudah disambut dengan Doni dan puluhan anak buahnya dengan tangan kosong. "Lu yang namanya Ip..","BACOT KAU DONI!!!" Pitbull memotong, kami melempar senjata keluar jendela dan berlari liar kearah kerumunan. Tak perlu peramal, sudah dipastikan darah darah segar keluar dari pelipis mata kami, bahkan suara bisingpun sudah tak terdengar. Pitbull dan Pandu meraung kesakitan, menyerang membabi buta. Lagi, darah merah segar mengalir dari pelipis mata icun. Teriakku... "DONIII!!!!", Aku berlari kencang dan melompat, sebuah bogem mentah mengarah ke rahang Doni. "Keprak!" (Suara rahang patah). Diikuti aku yang tak sadarkan diri.
Bangun bangun itu sudah senja, merah menyalak langit. Di lantai teratas gedung, Sahala melemparkan sekotak rokok kepalaku. Kami duduk bersampingan menatap senja, "Ah kimak!, gak jadi matinya kita" tukas Pitbull memecah tawa. Aku pandangi mereka mereka yang babak belur, ican dan pandu asyik membahas siapa yang paling banyak melempar bogem. Lalu sebuah panggilan dari telfon Sahala "iya halo?", Singkat cerita telfon itu diberikan kepadaku. "Paaaaan !!! Kamu gapapa?", Sial suara lembut itu. Aku menatap mata Sahala "dari mana nomornya anjing?", Sahala hanya berlagak linglung. "Aku gasuka kamu sok jagoaaan!" Suara lembut itu lagi dari telfon.
Lanjutannya di tunggu cuy
ReplyDelete