SAGA 5
Suara lembut itu
Ketika hujan, nona dan kucing bag terakhir
Senja berganti malam, diatas yang berbau kapuk tua, pikirku mengenang segala hal tentangnya. Setiap kali kupejamkan mata, wajahnya selalu muncul begitu saja. Bayangnya masih ada dikamarku, kemanapun mataku mengarah seolah aku berhalusinasi dia sedang bersamaku. Waktu yang berdetik mengalir begitu saja, aku sudah di meja belajar dengan sebuah pensil dan kertas. Wajahnya terus membayangiku, kedalam kertas putih berbau kamar kayu itu aku lampiaskan euforia dan saturnian dengan garis garis dan warna. Di udara nada nada dari the Westlife "if i let you go" mengisi kamar kecil 3×2 itu. Pas sekali, besok adalah hari ulang tahunya. Ku rampungkan lukisan itu sebagus mungkin, sebelum pagi.
Pagi pun tak permisi untuk tiba, pagi itu Pitbull, pandu, dan aku sedang duduk disalah satu pojok kantin aku sudah bersiap siap memberikan hadiah ulang tahun terbaik. Tak lama Sahala datang tiba tiba "Pann pann!" (Dengan nafas terengah engah), "kenapa la?", "Vania pindah sekolah !", Dari luar kantin aku melihat dia berjalan dengan orang yang kutemui dirumahnya nenek. Aku segera berlari berhamburan keluar kantin.
"Vaan !", Dia terus berjalan tanpa menoleh kebelakang. Pandu dan yang lain keluar kantin menghampiriku, "dia pindah ke Denhaag, itu bapaknya" tukas Sahala. Ku ambil kunci motor pandu, ku pacu astut tua itu kebukit. Dipagar sekolah, pak Hanung satpam sekolah melarangku keluar, Pitbull dan Sahala melarang pak Hanung melarangku. Sahala berteriak "Woooy kemana Paaaan???"
Dibukit angin angin berhembus pelan, menghempas daun daun bambu kearah timur. astut tua itu tak berulah mengikutiku ke puncak bukit, aspal pucat itu menghantar ku lurus keatas. Aku tak menangis, maksudku mengapa semua tiba tiba. Maksudku kenapa tuhan harus memperkenalkanku degannya, membawanya jauh dariku ketika rasa itu sudah ada. Dipuncak pagi itu, langit masih teduh. Tak ada siapa siapa selain aku, rumput yang bergoyang, dan hati yang kelu.
Dipuncak bukit aku berteriak kepada langit yang tak kelabu, "AKUUU BENCII HUJANN!!!" "AKU BENCIII AKUUU",ku lampiaskan amarah, bukan amarah tetapi sedih, bukan sedih ah sial akupun tak tahu perasaan apa ini, semacam reaksi kimia yang didesain tuhan untuk menjaga daya tahan emosi hanya saja lebih cepat bereaksi dibanding fibrinogen ketika luka. tuhan menciptakan kelenjar lakrimalis, fungsinya untuk membersihkan mata dari debu. Dari kelenjar itu justru keluar tetesan air yang mengalir perlahan melalui pipi ketanah yang lembab. Lagi lagi hujan justru turun dipagi yang cerah itu, "AKU BENCI KAUUU LANGIT" aku menunjuk langit , langit justru kelabu. Aku mulai menyalahkan benda benda yang ada, air mata bercampur dalam hujan. Tetesnya tak tampak jatuh ketanah, mungkin ini cara hujan menjaga aibku kepada langit yang kelabu. Pagi yang cerah di akhir bulan April, mendadak membiru tanpa aba aba. Ramalan cuaca terbukti salah, pagi itu bukan pagi cerah yang berawan justru pagi yang yang gelap dengan hujan yang deras. Menutup kisah yang kuceritakan kepada kucing yang aku yakin dia tidak mengerti, bukan jelmaan dewa atau sebagainya.
Semua itulah yang terjadi padaku selama dua bulan terakhir ini, sekarang aku sedang bersama rain, hujan turun rintik-rintik disore yang kelabu jatuh bergantian membuat nada nada teduh ketika jatuh keloteng. Petrichorpun tak sama lagi dengan yang kurasakan ketika bersamanya, kenangan hanya ada untuk dikenang. Segelas coklat panas dengan seekor kucing berbulu putih bersih menghangatkan kakiku, diantara lembaran lembaran kertas yang lapuk kutuliskan kisah ini.
Ibarat hujan yang hanya dapat turun, aku tak dapat kembali ke hari itu. Ibarat tubuhnya yang hangat dihujan yang dingin, aku akan tetap sama walau semua membiru. Tanpanya aku berdurja, derai senja dibatas kelabu, aku tak bersajak wahai nona aku berteriak dalam tangis.
Eevoaa, ketika hujan, nona, dan kucing. 4 Mei 201?.
Kok sad ending?
ReplyDelete