SAGA 6 (TALE)

Picisan horor 1

Well then, kali ini bukan sebuah kisah atau cerita. Ini tentang sebuah kejadian, kejadian ini dialami oleh seorang pembaca yang mengirimkan ceritanya ke alamat email penulis. Sebagai penulis saya sangat mengharapkan kebijakan pembaca.

Selamat membaca ~

Kejadian itu bermula dihari minggu, aku terbangun sekitar pukul 7 dan semua orang dirumah masih tertidur pulas tak ayal karena ini hari libur. Diluar bagitu dingin dengan angin kencang dan hujan rintik rintik. Aku pergi ke dapur untuk memasak telur ceplok mungkin, soalnya aku tidak mendapati lauk dimeja makan. kutuangkan minyak makan keteflon dengan api sedang, lalu diikuti dengan ceplokan telur "psssssss" (suara minyak makan menyambut putih telur).

Aku keruang tamu sebentar meninggalkan kompor menyala untuk menghidupkan tv, agar suasana dirumah tak terasa begitu sunyi dengan suara hujan yang membuatku sedikit bergidik. Kembali ke dapur ku ambil piring, beberapa sendok nasi, dan kuletakkan telur ceplok a.k.a mata sapi ke atas nya dan bergegas keruang tamu. 

Sambil menonton serial tv di Minggu pagi itu, aku menyuapkan nasi kemulutku. Tidak ada yang aneh dari rasa telur itu, justru aku mulai merasa itu aneh karena tidak ada yang aneh. Apakah kalian sadar kenapa?

Ada rasa asin di telur itu, sementara aku yakin sekali tidak sebutirpun ku taburkan ke telur itu. wah ada yang gak beresni gumamku dalam hati, aku segera bergegas kekamar orangtua ku untuk memeriksa. Betapa terkejutnya aku mendapati Tidak ada orang disana, tidak ada siapa siapa disudut rumah ini selain aku.

Aku tak berpikir panjang, kutinggalkan sepiring nasi tadi kuambil kunci Honda dan pergi sejauh mungkin dari rumah itu menuju ke daerah perkotaan. Singkat cerita aku dalam libur panjang dan berlibur kerumah orang tua ku disebuah desa terpencil dikelilingi sawah dan pohon pohon Pinus tinggi, sekarang aku mahasiswa tahun ke 3 jurusan arsitektur di ITB. 

Dengan celana puntung dan kaos oblong aku segera menuju ke motor dan beranjak. Sialnya daerah ini adalah dataran tinggi dan sekarang sedang musim angin kencang di pagi hari lagi. Tubuhku betul betul dingin, aku bisa melihat asap keluar dari mulutku sebegitu dinginnya suasana saat itu. Akhirnya aku berhenti ditengah jalan karena melihat ada warung kopi tradisional ditengah tengah hutan pinus ini.

penjual kopi itu berbahasa gayo, aku tidak begitu mengerti tapi dia tahu aku mau minum kopi. Dia saja menggunakan jaket berlapis lapis tebal dan kupluk sementara aku yang berkaus puntung dan kaus oblong yang tipis ini. Segelas kopi hangat datang, aroma kopi desa memang berbeda. Belum lagi aku menyeruput kopi itu, si penjual kopi sudah tidak ada aku melihat kearah jalan hanya hutan Pinus dengan kabut dan angin kencang benar benar sepi. Sekali lagi aku lihat kedepan kedai kopi itu sudah tidak ada, wah gak beres ni gumamku lagi. 

Aku segera naik keatas motor grand keluaran 88 itu, sialnya ku engkol tidak hidup hatiku semakin tidak tenang. Aku buru buru mengengkol paksa motor tua itu, pergi aja intinya sejauh mungkin dari situ. Motor itu tak kunjung hidup, kubantingkan kesampingkan dan aku segera lari mengikuti jalan lurus yang sangat panjang dimana kanan kirinya phone Pinus menjulang tinggi.

Semakin aku berlari aku melihat gambaran orang diujung jalan, sialnya lagi aku sadar wajahnya datar. Semua doa yang kuhafal kubacakan sambil berlari kearah yang berlawanan kakiku betul betul ngilu ketika berlari. Aku melihat jam yang menunjukan pukul 1 malam pas.

Akupun terbangun, dalam perjalanan pulang kampung ditengah tengah hutan Pinus. Jam menunjukkan pukul 01:01, dan mobil yang aku tumpangi baru saja melewati sebuah kedai kopi di tengah hutan Pinus, tengah malam, dan angin kencang.

source : narasumber tidak ingin diberitahukan identitasnya. (WF)

Terlepas dari benar tidaknya, hanya narasumber dan Tuhan lah yang tahu. Penulis hanya menjadi perantara dalam menyampaikan kisah ini kepada pembaca.

Comments

Popular Posts