seraya menutup lemari hati
Satu malam aku bertanya
Pikirku penuh tanda tanda
Mega mendung di tengkorak
Porak poranda diacak laba laba
Lemari hati yang dulu ku jaga
Seraya meraba luka lukanya
Obrolan lama tergurat di pintunya
dia menjaga laba laba didalamnya
Meski dia tak mampu melihat taring tajamnya
Yang dia kenal dalam hitungan hari
Dia tinggalkan semua baris kenangan tahun lama
Dibuatnya panggung cerita almari dan tuan laba laba
Aku pendengar setia cerita mereka, seandai saja almari terluka ku cari ke kegelapan manapun laba laba bersembunyi
Aku janji
Sesekali almari tersenyum
Bukan maksudku tak membalas
Aku hanya tak ingin tersakiti
Apa lagi tersulut api
Sesekali almari menatapku dari belakang
Aku tahu, tapi aku tidak menoleh
Hatiku bergetar getar membentur dinding dada
Jantungku mendebar sekeras palu menghantam paku
Tetes air mata hampir jatuh sedeikit lagi sedekat dua besi pada lobang jarum
Hanya saja bibirku hampir terbiasa membisu
Hampir
Mungkin sebentar lagi dia bisu selamanya
Dan ucapan selamat tinggal termanis
Juga titipkan salam untuk tuan laba laba
Aku si perawat lemari
Comments
Post a Comment