Sajak sajak picisan 1
Lukisan di Buku Coklat
Angin malam menampar daun jendela
Dari dalam aku mendengar suara dahan
Retak retak tertiup sisa angin senja
Langit malam hitam legam
Berselimut bintang bintang
Memberikan gradasi kepada Kesunyian
Samar samar semakin jelas terdengar
Sajak sajak dari penyair malam
Nian waktu nian sulit dibedakan
Yang mana suara jangkrik yang mana suara angin
Keduanya menjadi suara malam
Di sebuah buku coklat,
yang lembarannya hampir penuh
Kulukiskan sebuah gambaran diri
Seorang gadis yang hari harinya merawat tangis
Dengan bibir yang basah, pipi yang ranum,
Dan sepasang bola mata yang coklat
Yang kulukiskan berulang kali.
Dihalaman belakang dari lukisan
Kutuliskan sebuah pesan
Kepada seorang pribadi
Yang hatinya tengah sepi
***
Kepada hangatnya embun hari, yang datang setelah malam,
Yang memberikanku alasan mengulang lagi.
Aku tidak berbicara tentang pagi,
Ini tentang mu.
***
Bila lemari perasaanmu tengah sepi dirundung waktu
Aku rela mengisinya untukmu
Bila lemari perasaanmu tengah menjaga sesuatu
Aku rela menunggu sampai tiba waktuku
Jika aku berjalan di waktu yang berbeda denganmu
Aku rela menanti sampai kita berjalan berdampingan
Bila kau tak memberikanku kemungkinan
Aku akan meminta kepada Tuhan
Bila Tuhan tak menakdirkanku
Namamu tetap akan kusebut di setiap baris doaku
***
“Memoir”
Kusisipkan diketeduhan hatimu
***
2 Januari (dua satu sembilan belas)
Eevoaa
Angin malam menampar daun jendela
Dari dalam aku mendengar suara dahan
Retak retak tertiup sisa angin senja
Langit malam hitam legam
Berselimut bintang bintang
Memberikan gradasi kepada Kesunyian
Samar samar semakin jelas terdengar
Sajak sajak dari penyair malam
Nian waktu nian sulit dibedakan
Yang mana suara jangkrik yang mana suara angin
Keduanya menjadi suara malam
Di sebuah buku coklat,
yang lembarannya hampir penuh
Kulukiskan sebuah gambaran diri
Seorang gadis yang hari harinya merawat tangis
Dengan bibir yang basah, pipi yang ranum,
Dan sepasang bola mata yang coklat
Yang kulukiskan berulang kali.
Dihalaman belakang dari lukisan
Kutuliskan sebuah pesan
Kepada seorang pribadi
Yang hatinya tengah sepi
***
Kepada hangatnya embun hari, yang datang setelah malam,
Yang memberikanku alasan mengulang lagi.
Aku tidak berbicara tentang pagi,
Ini tentang mu.
***
Bila lemari perasaanmu tengah sepi dirundung waktu
Aku rela mengisinya untukmu
Bila lemari perasaanmu tengah menjaga sesuatu
Aku rela menunggu sampai tiba waktuku
Jika aku berjalan di waktu yang berbeda denganmu
Aku rela menanti sampai kita berjalan berdampingan
Bila kau tak memberikanku kemungkinan
Aku akan meminta kepada Tuhan
Bila Tuhan tak menakdirkanku
Namamu tetap akan kusebut di setiap baris doaku
***
“Memoir”
Kusisipkan diketeduhan hatimu
***
2 Januari (dua satu sembilan belas)
Eevoaa
Comments
Post a Comment