dia, abang bakso, dan sambalado
Tiang lampu remang remang
Diselingi binar kunang kunang
Menyorot kebawahnya
Seorang pedagang bakso keliling
Menghitung air keringat
Aku lewat tanpa bahasa
Sudah Maghrib apa jua
Walau cacing demo masa
Dirumah kubuka tudung saji
Ku makan ikan yang sudah mati
Memang seharusnya begitu
Mulai kubuka buku puisi
Dikamar dengan lampu kuning
Sayup sayup sanubari
Pertama tama kutulis namanya
Kedua kuberitakan dia
Rumah kita ternyata terhubung dengan kabel PLN
Kenapa tidak dengan hati kita
Yang bahkan tidak perlu pembangkit listrik untuk saling terhubung
Aku bercanda, dia sudah ada yang punya.
Terlalu banyak kata kata
Yang membuncit dipikiran
Aku sendiri heran
Kubuka kulkas dengan bismilah
Wadah eskrim di pendingin
Lah walah isinya sambalado
Hari ini aku lupa menggembala kata kata
Kata kata hilang entah kemana
Yang datang kekepala
Justru kata dia
Entah kemana kata kata.
Taji senja, 21 Juni (tahun hujan)
Diselingi binar kunang kunang
Menyorot kebawahnya
Seorang pedagang bakso keliling
Menghitung air keringat
Aku lewat tanpa bahasa
Sudah Maghrib apa jua
Walau cacing demo masa
Dirumah kubuka tudung saji
Ku makan ikan yang sudah mati
Memang seharusnya begitu
Mulai kubuka buku puisi
Dikamar dengan lampu kuning
Sayup sayup sanubari
Pertama tama kutulis namanya
Kedua kuberitakan dia
Rumah kita ternyata terhubung dengan kabel PLN
Kenapa tidak dengan hati kita
Yang bahkan tidak perlu pembangkit listrik untuk saling terhubung
Aku bercanda, dia sudah ada yang punya.
Terlalu banyak kata kata
Yang membuncit dipikiran
Aku sendiri heran
Kubuka kulkas dengan bismilah
Wadah eskrim di pendingin
Lah walah isinya sambalado
Hari ini aku lupa menggembala kata kata
Kata kata hilang entah kemana
Yang datang kekepala
Justru kata dia
Entah kemana kata kata.
Taji senja, 21 Juni (tahun hujan)
Comments
Post a Comment