jangan sendiri mei
malam ini jantung kota kedinginan,
burung gereja terlelap di masjid kota
di kusen-kusen jendela yang hangat.
simpang jam,
mendetak roda-roda setiap menitnya
menuntun beberapa untuk pergi
menuntun beberapa untuk pulang
ke nadi-nadi jalan yang berbelit
nafas lampu lampu jalan berhembus
kerumah rumah yang hangat
melelapkan lelah para penghuni bumi
dari kejamnya waktu dan perpisahan
merelakan kejadian indah hari ini
ke alas kaki di pintu rumah atau kebalik bantal-tidur
seakan akan konsep menyimpan kenangan
tidak memiliki ruang penyimpanan.
mungkin, ini alasan kenapa perasaan yang sama belum tentu dirasakan kedua pasangan
sebagian menyimpan sebagian merelakan.
beberapa yang memutuskan untuk sendiri
bukan karena tidak terlahir untuk keramaian
hanya saja terlalu takut untuk mengenang ingatan
ada alasan kenapa bulan "purnama" pada waktunya
karena tanggal tanggal tidak berjeda
yang terlalu takut sendiri akan tertinggal
pada bulan yang sia sia.
dan puisi ini,
puisi ini untuk mu.
mei 20,
Kamar 00:17.
Jangan sendiri mei!
all of your words mean an iridescent in my eyes, keep make it deeper than river.. wish u always on ur best<3
ReplyDeleteSure thanks for ur support, I'll keep making more poems
Delete