Aku, Puan, dan Tiket Pulang
Puan adalah kereta api
yang menghabiskan banyak batu bara
tapi tidak pernah keluar dari peron puan
yang puan puja dengan penuh ego
di mata puan yang membara.
Dan aku adalah seorang penumpang
yang mengagumi cara puan melihat dunia,
tapi puan melihat aku
dengan sepasang mata
yang penuh rasa ragu
padahal aku hanyalah setubuh raga
yang bertekat mengusir takut
pada hati puan,
Yakinlah,
ini pertama kalinya dalam hidup ku
aku membeli tiket tanpa tujuan
dan menyerahkan diri ku
kepada puan yang tidak bisa membaca peta,
peta mata angin
dan peta angan di mata ku
yang harus kau temukan
agar dia berubah menjadi ingin.
Tapi sepertinya kita berbeda keyakinan
aku yakin tuhan pertemukan kita
bukan tanpa alasan,
sementara puan tidak yakin halnya
demikian.
Jangan pernah takut tersesat
saat melihat dunia
tapi takutlah melihat dunia
yang sekecil bola mata mu.
13 Januari 2022
puisi ini ditulis dengan rasa resah yang begitu hebat
pukul 4 dini hari dan dipukul
dengan kotak masuk yang kosong.
Comments
Post a Comment